Muslim Forever

Do'a Dan Zikir, Bersihkan Hati, Jalan Lurus


 





Segala Puji bagi Allah Tuhan Seru sekalian alam.Tuhan Yang Maha Rahman.Maha Rahim.. Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk kekasih Allah,Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam.Allahumma Shalli wa Salim Ala Sayyidina Muhammadin wa Ala aali Sayyidina Muhammadin fi Kulli Lam Hatin wa na Fasinn bi'adadi Kulli Ma'lu Mil Lak.



`*•Yaa Rabbi•*´¯)Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir sebelum bertindak,santun dalam berbicara,tenang ketika gundah,diam ketika emosi melanda,bersabar dalam setiap ujian.Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq,sebijaksana Umar bin Khattab,sedermawan Utsman bin Affan,sepintar Ali bin Abi Thalib,sesederhana Bilal,setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhumáƒĤAmiin ya Rabbal'alamin.



"Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (QS. 16 : 1)..



Hari-Hari terakhir jadi terasa sedikit berat. Beberapa hal yang harus dikerjakan secara bersamaan datang tak terbendung. Masih sibuk di depan komputer, aku mencoba untuk menguatkan hati lewat nasyid-nasyid yang kuputar lewat media player di layar monitor yang masih setia menemaniku. Tapi kemudian aku tertegun sejenak, karena terdengar sebuah lagu yang begitu menggetarkan hatiku.



Di kedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci .Tak perlu engkau menyangsikan.Lewat keshalihanmu yang terukir menghiasi dirimu .Tak perlu dengan kata-kata.Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku,Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan,Kalau memang kau pilihkan aku.Tunggu sampai aku datang nanti.Kubawa kau pergi kesyurga abadi,Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu.Nantikanku di batas waktu.



Teringat bahwa aku begitu lemah dan tak tahu arah. Lamunanku kembali terbangun dalam kenangan-kenangan dengan orang yang beberapa bulan terakhir ini menghiasi fikirku. Seseorang yang terlihat begitu sempurna di hatiku, meski tak pernah sekalipun aku melihat dirinya dalam dunia nyata.



Datangnya begitu tiba-tiba dan tak pernah kuduga. Dia datang dalam hari-hariku sebagai teman dunia maya. Hingga akhirnya kini dia menghilang, pergi seiring dengan berjalannya waktu.



Sebuah perkenalan yang diawali dengan niatan yang baik. Aku ingin menjadi sahabatnya, karena bagiku sebuah ikatan persaudaraan teramatlah penting. Tapi hatiku terlalu rapuh dan lemah, tak kuasa aku menjaga segumpal darah di dalam tubuh yang hina ini. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda, rasa yang mungkin juga pernah hadir dalam hatiku.



Malam-malamku kubangun dalam sujud yang kupenuhi dengan tangis. Ketakutanku akan hadirnya rasa itu begitu dalam. Aku mencoba menyerahkan segalanya padaNya yang menguasai setiap hati manusia. Aku meminta padaNya yang telah begitu menyayangiku yang begitu hina ini, kuminta agar hati ini dikuatkan dan agar hati ini tak lagi terjebak pada rasa yang semu. Karena aku takut rasa itu akan menjauhkanku dariNya.



Aku mencoba tabah, berbagai hal kulakukan demi menenangkan hati ini. Kubuka musyafku, kubaca surah Ar-Rahman yang begitu indah dan menjadi pengobat lukaku selama ini. Tapi kemudian aku kembali teringat kepadanya yang tak pernah kutahu siapa. Tak kuasa menahan air mata, kembali aku berpasrah padaNya karena aku benar-benar takut.



Dia benar-benar sosok yang sempurna di hatiku. Masih terbayang jelas bahwa dia selalu hadir dalam setiap masalah yang kuhadapi. Dia begitu sempurna bukan karena fisik ataupun kekayaannya. Tapi dia begitu terlihat sempurna karena dia selalu mencoba mendekatkan hatinya pada Rabb-nya. Orang yang semakin jarang kutemui dalam kehidupan yang ada di sekitarku.



Tapi aku kembali pada diriku. Aku terlalu lemah untuknya, terlalu hina jika disandingkan dengannya, karena aku bukanlah bidadari syurga, yang selalu sempurna dalam setiap hal. Aku tak seindah mereka yang selalu dapat menjaga agama dalam setiap hela nafas. Dan aku takut jatuh cinta.



Kemudian dia mulai pergi seiring berjalannya waktu.Aku mencoba untuk tabah dan ikhlas dalam menjalani ini semua, karena kutahu, Allah tidak akan menguji diri ini melebihi batas kemampuanku. Dan kutahu, Dia akan memberi yang terbaik untukku.



Aku kembali tersadar dari lamunan.Segera aku beristighfar,kemudian kulirik penunjuk waktu yang terdapat di pojokan monitor. Pukul dua dini hari, saatnya aku untuk mengistirahatkan diri. Tapi rasa hati ini menginginkan untuk berjumpa denganNya karena aku begitu merindukannNya. Dan, malam ini pun aku kembali larut dalam tangis ketakutanku, karena aku takut jatuh cinta.






sumber:facebook sebelum engkau halal bagiku


(read more ...)


Miskin Syukur

On 04 Januari 2012 0 Comment


 



Pagi hari masih bisa beli nasi uduk, lengkap dengan bihun, tempe goreng atau semur jengkol sebenarnya sudah bagus. Tetapi kerap mulut berbicara lain, “Nasi uduk melulu, nggak ada makanan lain?” Akhirnya sampai sore sepiring nasi uduk itu tak disentuh sama sekali.



Sudah sepuluh tahun bekerja dan punya penghasilan tetap saja mengeluh, “Kerja begini-begini saja, nggak ada perubahan, gaji sebulan habis seminggu…” Belum lagi ‘nyanyian’ isteri di rumah, “cari kerja tambahan dong pak, biar hidup kita nggak susah terus”



Dikaruniai isteri yang shaleh dan baik masih menggerutu, “baik sih, rajin sholat, tapi kurang cantik…” Tidak beda dengan seorang perempuan yang menikah dengan pria bertampang pas-pasan, “Sudah miskin nggak ganteng pula. Masih untung saya mau nikah sama dia…”



Punya kesempatan memiliki rumah meski hanya type kecil dan rumah sangat sederhana tentu lebih baik dari sekian orang yang baru bisa mimpi punya rumah sendiri. Disaat yang lain masih ngontrak dan nomaden, mulut ini berceloteh, “Ya rumah sempit, gerah, sesak. Sebenarnya sih nggak betah, tapi mau dimana lagi?”



Sudah bagus suaminya tidak naik angkot atau bis kota berkali-kali karena memiliki sepeda motor walau keluaran tahun lama. Eh, bisa-bisanya sang isteri berkomentar, “Jual saja pak, saya malu kalau diboncengin pakai motor butut itu”.



Ada lagi yang dikaruniai anak, sudah bagus anaknya terlahir normal, tidak cacat fisik maupun mental. Gara-gara anaknya kurang cantik atau tidak tampan, ia mencari kambing hitam, “Bapak salah milih ibu nih, jadinya wajah kamu nggak karuan begini”. Padahal di waktu yang berbeda, ibunya pun berkata yang hampir mirip, “Maaf ya nak, waktu itu ibu terpaksa menikahi bapakmu. Habis, kasihan dia nggak ada yang naksir”.



Kita, termasuk saya, tanpa disadari sudah menjadi orang-orang miskin. Bukan karena kita tidak memiliki apa-apa, justru sebaliknya kita tengah berlimpah harta dan memiliki sesuatu yang orang lain belum berkesempatan memilikinya. Kita benar-benar miskin meski dalam keadaan kaya raya, karena kita tak pernah bersyukur dengan apa yang dianugerahkan Allah saat ini. Ya, kita ini miskin rasa syukur.



Punya sedikit ingin banyak, boleh. Dapat satu, ingin dua, tidak dilarang. Merasa kurang dan mau lebih, silahkan. Tidak masalah kok kalau merasa kurang, sebab memang demikian sifat manusia, tidak pernah merasa puas. Pertanyaannya, yang sedikit, yang satu, yang kurang itu sudah disyukuri kah?



Pada rasa syukur itulah letak kekayaan sebenarnya. Berangkat dari rasa syukur pula kita merasa kaya, sehingga melahirkan keinginan membagi apa yang dipunya kepada orang lain. Kita miskin karena tidak pernah mensyukuri apa yang ada. Meski dunia berada di genggaman namun kalau tak sedikit pun rasa syukur terukir di hati dan terucap di lisan, selamanya kita miskin.



Coba hitung, duduk di teras rumah sambil sarapan pagi, ditambah secangkir kopi panas yang disediakan isteri shalihah. Sesaat sebelum berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor, lambaian tangan si kecil seraya mendoakan, “hati-hati Ayah…”. Subhanallah, ternyata Anda kaya raya!



oleh : Bayu Gawtama



Sumber:http://warnaislam.com


(read more ...)


 



Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka,tetapi segalanya sudah terlambat..



Nilai sebuah cinta



Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama.







Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah. Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar



matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata :"Mari,kita jemput nenek di kampung".



Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.



Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek:"Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira."Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga."



Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil berkata:"Putriku, kan kamu bisa berbohong.Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.



Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.



Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya; dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya.Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.



Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masukke kamar sambil membanting pintu dan menangis.Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata:"Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?"



Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri? Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku.Dan dia akhirnya berkata:"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.



Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua.Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh……suamiku segera mengejarnya keluar rumah.



Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek. Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?



Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?



Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.



Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.



Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika........ ....dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.



Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.



Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.



Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.



Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.



"Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya:"" Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya"" .Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.



Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."" Lu Di, kamu hamil?"" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab:""Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi"".Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali. "Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:"Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.



Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.



Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?



Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.



Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?



Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.



Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya………aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.



Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…………Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. """Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai"".



Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku.



""Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya""."



Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya".Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum... ......... ..anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata........ ......... ....





Segalanya telah terlambat...





Sahabat "IS" yg terkasih, saya sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.



http://www.facebook.com/notes/istri-solehah/ketika-segalanya-telah-berakhir/10150330633357655


(read more ...)


 



Ini adalah kisah tentang sepasang suami istri, yang dalam bahtera rumah tangga tersebut, Allah memberikan ujian dengan belum hadirnya buah hati ditengah- tengah kehidupan mereka. Semoga menjadi hikmah bagi kita semua, bahwa ujian adalah memang bagian dari kehidupan yang seharusnya membentuk kita agar menjadi pribadi yang lebih sabar.



                                                               



Alkisah, suatu hari seorang suami yang setelah pulang dari bekerja, mendapati rumahnya kosong tidak berpenghuni. Istrinya tidak berada dirumah kala itu.



 



Entah mengapa, tiba- tiba seketika itu, meledaklah emosinya. Hal ini semakin bertambah, apalagi setelah melihat istrinya yang tiba- tiba muncul dari balik pintu.



 



Berkatalah sang suami dengan kemarahannya yang sangat, ” Dari mana saja kau?, aku capek pulang kerja kau malah kelayapan di luar “



 Si istri tersenyum, dia berniat menjawab pertanyaan suaminya untuk memberikan penjelasan, namun tiba- tiba lehernya terasa seperti tercekik. Sang suami menarik jilbab panjang yang dipakainya hingga nyaris sobek. Dan seketika itu pula si istri terjatuh di tanah.



 



Sejenak sang istri menghela nafas, dan tak terasa air matanya jatuh. Tapi ditahannya mulutnya sendiri agar tidak mengucapkan sesuatu yang membuat kemarahan suaminya semakin menjadi- jadi.



 



” Aku akan membuatkan air hangat untuk kau mandi, suamiku” kata sang istri sambil menyeka air matanya dan mencoba berdiri.



 



” Tidak usah!” Jawab sang suami dengan keras.



 



” Semakin lama, aku bosan dengan keadaan seperti ini. Aku ingin anak darimu, tapi mengapa kau malah mandul. Dasar istri tidak berguna!” Lanjut suaminya dengan sangat marah.



 



” Maaf” jawab si istri pelan.



 



” Sudahlah! tidak ada gunanya kau minta maaf. Kau ku ceraikan saat ini juga. Aku ingin wanita yang bisa memberiku anak” Jawab suaminya.



 



Sang istri rasanya seperti tersambar petir, ketika suaminya mengatakan kata cerai yang begitu tanpa beban keluar dari mulutnya. Dia benar- benar tak habis pikir, mengapa suaminya begitu sangat tega kepadanya, bahkan sebelum dia memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukannya tadi di luar.



 



Dia pun bertanya pada dirinya sendiri, mengapa setelah bertahun- tahun mereka menikah, dan dengan sepenuh hati dia telah melayani suaminya, namun dalam hitungan detik saja, suaminya telah tega menceraikannya.



 



Sang istri terus memohon kepada suaminya agar tidak menceraikannya, namun suaminya bahkan semakin lagi dan lagi dalam mengucapkan kata cerai bahkan sampai 3 kali. Setelah itu, di usirlah sang istri dari rumahnya.



 



Keesokan harinya, datanglah seorang ibu tua yang ingin bertamu hendak menemui sang istri. Suaminya hanya menjawab singkat kalau sang istri sudah tidak menghuni rumah tersebut. Si ibu tua kemudian minta ijin menjelaskan sebentar tentang maksud kedatangannya kali ini. Dia berkata bahwa dia ingin melanjutkan pembicaraan yang terpotong di hari sebelumnya tentang niat sang istri tersebut untuk melamar putrinya tersebut untuk menjadi istri kedua bagi suaminya.



 



Mendengar hal itu, Sang suami benar- benar terkejut dan tidak menyangka,



 



” Benarkah itu? ” tanyanya pendek



 



” Ya, dia bilang dia ingin menyenangkanmu dengan memberikanmu istri yang baru, agar kau beroleh keturunan.Namun dia tergesa- gesa pulang, karena teringat pada jam itu kau pasti sudah pulang, dan dia sangat ingin menyiapkan kebutuhanmu di rumah” Jawab si ibu menjelaskan



 



Si suami tidak bisa berkata apa- apa lagi. Rasanya tercekat tenggorokannya untuk mengeluarkan bahkan hanya untuk sebuah kata. Dia tidak menyangka, bahwa sang istri telah begitu luas hatinya demi kebahagiaannnya. Namun dia balas semua itu dengan kata thalak 3 yang dengan mudah terlontar untuknya begitu saja, kemarin.



 



Akhirnya…



 



Dengan perasaan penuh sesal, sang suami terus melanjutkan hidup.



 



Dan kali ini episode hidupnya telah sampai pada sebuah pernikahannya yang kedua. Dia menikahi anak dari ibu tua tersebut.



 



Setelah setahun berlalu, merekapun ternyata belum kunjung dikaruniai seorang anak. Terbersit keinginan sang suami untuk memperoleh keterangan tentang kesehatannya kepada seorang dokter. Setelah beberapa hari, diperoleh keterangan ternyata bahwa dialah yang mandul.



 



Seketika, muncullah kembali bayangan istrinya terdahulu yang begitu sholihah, sangat pengertian, serta sabar menerima keadaan. Hal apapun dihadapi istrinya itu dengan ikhlas tanpa keluhan, walaupun batin sang istri sendiri sering disakiti oleh perangai suaminya yang mudah marah dan sering kali memukulnya.



 



Rasa penyesalan dan sedih berkepanjangan semakin menyeruak dalam benak sang suami saat itu. Dia merasa bahwa ini adalah hukuman dari Allah karena telah menyia- nyiakan istrinya yang terdahulu yang telah dengan setia menemaninya bertahun- tahun. Bertahun- tahun pula dia menuduh bahwa sang istri yang bermasalah karena tidak bisa mengandung seorang anak. Namun, ternyata kini semua telah jelas, bahwa dialah justru yang “bermasalah”.



 



Dan kini, tidak tersisa apapun baginya kecuali penyesalan yang sangat. Dalam sedih dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menghormati istrinya, dan tidak akan dengan gampang mengumbar amarah kepada istrinya kembali, terutama dengan tindakan yang begitu ringannya dia mengobral kata cerai bagi pasangan hidupnya.



 



(Syahidah/voa-islam.com)


(read more ...)


 



Namanya "Aini". begitu ummi biasa memanggilnya. Salah satu "adik " terbaik yang pernah ummi miliki, yang pernah ummi temui dan alhamdulillah Allah pertemukan ummi dengannya.



Seharusnya 28 Januari lalu genap ia menginjak usia 37 tahun. Beberapa tahun bersamanya , banyak contoh yang bisa ummi ambil darinya. Kedewasaan sikap, keshabaran, keistiqomahan, dan pengabdian yang luar biasa meretas jalan da'wah ini. Seorang muharrik da'wah yang tangguh dan tak pernah menyerah. Sosok yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa dan memiliki khusnuzon yang teramat tinggi kepada Allah. Dan dia adalah salah satu amanah ummi terberat, ketika memang harusnya ia sudah memasuki sebuah jenjang pernikahan.



Ketika beberapa akhwat lain yang lebih muda usianya melenggang dengan mudahnya menuju jenjang tersebut, maka 'Aini Allah taqdirkan harus terus meretas keshabaran. Beberapa kali ummi berikhtiar membantunya menemukan ikhwan shalih, tetapi ketika sudah memulai setengah perjalanan proses..Allah pun berkehendak lain. Namun begitu, tidak pernah ada protes yang keluar dari lisannya, tidak juga ada keluh kesah, atau bahkan mempertanyakan kenapa sang ikhwan begitu " lemahnya " hingga tidak mampu menerjang berbagai penghalang ? Atau ketika masalah fisik, suku , serta terlebih usia yang selalu menjadi kendala utama seorang ikhwan mengundurkan diri , 'Aini pun tidak pernah mempertanyakan atau memprotes " kenapa ikhwan sekarang seperti ini ?



Tidak ada gurat sesal, kecewa, atau sedih pada raut muka ataupun tutur katanya . Kepasrahan dan keyakinan terhadap kehendak Allah begitu indah terlukis dalam dirinya.



Hingga, akhirnya seorang ikhwan shalih yang dengan kebaikan akhlak serta ilmunya, datang dan berkenan untuk menjadikannya seorang pendamping. Tidak ada luapan euphoria kebahagiaan yang ia tampakkan selain ucapan singkat yang penuh makna " Alhamdulillah. .jazakillah ummi sudah membantu...mohon do'a agar diridhai Allah "



Alhamdulillah , Allah mudahkan proses ta'arauf serta khitbah mereka, tanpa ada kendala apapun seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Padahal ikhwan shalih yang Allah pilihkan tersebut berusia 10 tahun lebih muda dari usianya.



Berkomitmen pada sunnah Rasulullah untuk menyegerakan sebuah pernikahan, maka rencana akad pun direncanakan 1 bulan kemudian, bertepatan dengan selesainya adik sang ikhwan menyelesaikan studi di negeri Mesir.



Namun , Allah lah Maha Sebaik-baik Pembuat keputusan..



2 minggu menjelang hari pernikahan, sebuah kabar duka pun datang. Usai 'Aini mengisi sebuah ta'lim , motor yang dikendarainya terserempet sebuah mobil, dan menabrak kontainer didepannya. 'Aini shalihah pun harus meregang nyawa di ruang ICU. 2 hari setelah peristiwa itu, Rumah sakit yang menanganinya pun menyatakan menyerah. Tidak sanggup berbuat banyak karena kondisinya yang begitu parah.



Hanya iringan dzikir disela-sela isak tangis kami yang berada disana. Semua keluarga 'Aini juga sang ikhwan pun sudah berkumpul. Mencoba menata hati bersama untuk pasrah dan bersiap menerima apapun ketentuanNya. Kami hanya terus berdo'a agar Allah berikan yang terbaik dan terindah untuknya. Hingga sesaat, Allah mengijinkan 'Aini tersadar dan menggerakkan jemarinya. Rabb..sebait harapan pun kembali kami rajut agar Allah berkenan memberikan kesembuhan, walau harapan itu terus menipis seiring kondisinya yang semakin melemah. Hingga kemudian sang ikhwan pun mengajukan sebuah permintaan kepada keluarga 'Aini.



" Ijinkan saya untuk membantunya menggenapkan setengah Dien ini. Jika Allah berkehendak memanggilnya, maka ia datang menghadap Allah dalam keadaan sudah melaksanakan sunnah Rasulullah.. ."



Permintaan yang membuat kami semua tertegun. Yakinkah dia dengan keputusannya ?



Dalam kedaaan demikian , akhirnya 2 keluarga besar itupun sepakat memenuhi permintaan sang ikhwan.



Sang bunda pun membisikkan rencana tersebut di telinga 'Aini. Dan baru kali itulah ummi melihat aliran airmata mengalir dari sepasang mata jernihnya.



Tepat pukul 16.00, dihadiri seorang penghulu,orangtua dari 2 pihak, serta beberapa sahabat dan dokter serta perawat...pernikahan yang penuh tangis duka itupun dilaksanakan. Tidak seperti pernikahan lazimnya yang diiringi tangis kebahagiaan, maka pernikahan tersebut penuh dengan rasa yang sangat sulit terlukiskan. Khidmat, sepi namun penuh isakan tangis kesedihan.



Tepat setelah ijab kabul terucap...sang ikhwan pun mencium kening 'Aini serta membacakan do'a diatas kain perban putih yang sudah berganti warna menjadi merah penuh darah yang menutupi hampir seluruh kepala A'ini. Lirih, kami pun masih mendengar 'Aini berucap, " Tolong Ikhlaskan saya....."



Hanya 5 menit. Ya..hanya 5 menit setelah ijab kabul itu. Tangisanpun memecah ruangan yang tadinya senyap menahan sesak dan airmata. Akhirnya Allah menjemputnya dalam keadaan tenang dan senyum indah.



Dia telah menjemput seorang bidadari...



Sungguh indah karunia dan janji yang telah Allah berikan padanya...



Dia memang hanya pantas untuk para mujahidNya di Jannah al firdausi....



Dan sang ikhwan pun melepas dengan penuh sukacita dengan iringan tetes airmata yang tidak kuasa ditahannya.. .



" ..Saya telah menikahi seorang bidadari.. nikmat mana lagi yang saya dustakan..."



Begitulah sang ikhwan shalih mengutip ayat Ar RahmanNya...



Ya Rabb..Engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan hambaMu..Maka jadikanlah kami senantiasa dapat



 mengambil hikmah dari setiap episode kehidupan yang Engkau berikan...



http://ruangmuslim.com/forum/taaruf-dan-pernikahan/22058-tunggu-aku-disurga-sayang.html#22118


(read more ...)

Dalam Dekapan Cinta II

On 17 Oktober 2011 0 Comment


Belum cukup sebulan Raihan bekerja di perusahan penyuplai semen tersebut, tak lama kemudian ia jatuh sakit. Ia telah merasa kurang enak badan semenjak beberapa hari sebelumnya namun ia tetap memaksakan diri untuk tetap bekerja meski sesekali batuk menghampirinya. Dony, teman kerjanya telah mengatakan kalau besok hari ia tak usah dating namun Ia tetap saja datang untuk bekerja dan pada saat itulah batuk disertai darah keluar dari mulutnya. (hemoptisis)



                                                



Sang istri yang mengurung diri di rumah saat suaminya pergi bekerja telah merasakan kegelisahan. Dan ternyata firasatnya itu benar saat suaminya dibawah pulang sudah dalam keadaan lemah tak berdaya oleh teman kerjanya.



 



Belum genap sebulan suaminya bekerja sehingga gaji bulanannya belum diterima. Istrinya lalu berlarian kerumah-rumah tetangga untuk menjual gelang emas miliknya yang diberikan ayahnya ketika masih gadis dahulu..  Meski harga tak sesuai dengan yang seharusnya namun ia harus menjualnya demi keselamatan suaminya.



 



Setelah mendapatkan uang, ia lalu membawa suaminya ke Rumah sakit di kota naik angkutan. Disana ia duduk di samping ranjang suaminya agar ketika suami siuman dari ketidaksadarannya ia telah menyambutnya dengan senyuman lalu melakukan apa yang diinginkan suaminya..



 



Awalnya dokter mengira suaminya hanya menderita Tubercolosis atau bronkiektasis namun ternyata setelah pemeriksaan ia di Vonis menderita Tumor karsinoma paru.



 



Sebenarnya jika hanya sekedar menderita karsinoma paru tidak sampai membawa penderita pingsan namun karena bekerja keras yang ditambahi kurang makan membuat daya tahan tubuh raihan lemah sehingga ia tak sadarkan diri.



 



Silvia tetap berada disamping ranjang suaminya.. Menunggu dan terus menunggu.. Hingga kadang ia tertidur dalam penantiannya kemudian bangun lagi. Hingga suatu malam ia terbangun di sepertiganya malam. Ia lalu menatap kearah jarum jam yang terus berbunyi setiap detiknya itu.



 



Jarum jam menunjukkan pukul 03:00 dini hari.. Ia lalu berwudhu lalu tepet di samping ranjang suaminya Ia menangis mengeluh pada Allah atas apa yang dihadapinya ini..



 



“Ya Allah.. Jika memang sakit yang kurasa ini adalah cinta-Mu padaku karena Engkau ingin aku terus mengeluh pada-Mu, aku ridho jiwa ini untuk terus disakiti.. Namun ya Allah.. Hambamu yang hina dan kotor ini memohon pada-Mu.. Jangan Engkau biarkan Suami hamba terus diam dan kaku di ranjang itu ya Allah.. Hamba mohon ya Allah.. hamba mohon.. Hamba sangat mencintainya…



 



Keheningan malam menjadi saksi bahwa ada seorang wanita yang syujud simpuh pada Robbnya.. Aliran air mata bak gersang mendamba hujan mengalir membasahi sajadah panjang yang dibentangkannya..



 



Ketika Allah rindu pada hambanya, Ia akan mengirimkan sebuah kado istimewa melalui malaikat Jibril yg isinya adalah ujian. Dalam hadits kudsi Allah berfirman. "Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya karna Aku ingin mendengar rintihannya." (HR Thabrani dari Abu Umamah)



 



Setelah sholat lail yang dilanjutkannya dengan sholat subuh, ia kembali lagi duduk di dekat ranjang suaminya. Menatap wajah lelaki sholeh yang dicintainya tersebut dengan sesekali mengusap kepalanya dengan usapan ketulusan. Ia lalu tertidur disamping suaminya dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan suaminya..



 



Tak lama kemudian ia merasa ada gerakan dari tangan suaminya. Ia lalu secepatnya bangun dari tidurnya. Ia melihat raihan mulai mencoba membuka mtanya. Hati gembira yang teramat sangat setelah tiga hari menunggu di bangsal itu. Ia lalu menyambut kesadaran suaminya itu dengan senyuman cerianya dan melupakan segala kepenatan yang dihadapinya agar suaminya pun bahagia ketika menatapnya.



 



Silvia lalu segera memanggil suster untuk memeriksa suaminya yang tengah sadarkan diri. Suster lalu memeriksa Raihan dan mengatakan kalau kondisinya sudah cukup membaik. Ucapan hamdala lalu terlontar dari bibir Silvia. Namun kata dokter perlu istirahat selama dua hari lagi hingga sembuh total baru raihan bisa pulang dengan persyaratan jangan kerja berat dulu..



 



Setelah dokter dan perawatnya pergi, raihan lalu bertanya pada Silvia.



“Siapa yang membayar seluruh administrasi dan biaya pengobatanku ini?”



Silvia yang tengah duduk disamping ranjang sambil membaca buku lalu mengangkat kepalanya tersenyum pada suaminya.



“Tidak usah dipikirkan.. Semua akan baik-baik saja. Yang penting Akang bisa sembuh dulu.”



Raihan lalu terdiam.. kemudian Ia menatap tangan istrinya yang sedang memegang buku membuat ia curiga.. Ia lalu menyuruh Silvia mengangkat buku yang dipegangnya lebih tinggi lagi. Silvia heran mendengar permintaan suaminya tersebut namun ia menurutinya. Dan ketika tangan di angkatnya lebih tinggi, tangan bajunya yang sedikit longgar terturun sehingga suaminya melihat sudah tak ada gelang lagi di pergelangan tangan istrinya. Raihan lalu memalingkan wajah dari arah Silvia. Perlahan airmatanya pun jatuh membasahi bantal yang ia tiduri.



 



 Silvia masih saja heran terhadap suaminya yang memalingkan wajah darinya. Dia masih saja tak sadarkan diri bahwa sang suami telah mengetahui apa yang dilakukan olehnya.



 



Ia lalu mendekati suaminya dan terlihatlah airmata di wajah suaminya tersebut..



 



 “Kang.. kenapa menangis??” Tanya Silvia sendu.



 



Raihan tak menjawabnya dan tak mau menatapnya.. Ia merasa malu menatap istrinya sendiri. Ia malu pada dirinya yang hanya menyusahkan anak orang.



 



"Apa salahku Kang? Kenapa tak mau menatapku.” Tanya sivia lagi..



 



 “Aku malu Sil.. Aku malu.. Aku hanya seorang suami yang menyusahkan istri. Aku bahkan tidak bias memberikan apa-apa untukmu..



 



 “Ada apa kang..? Aku tak dapat memahaminya.” Tanya silvia lagi. Belum paham akan maksud suaminya.



 



  “Tolong jawab.. Dimana gelang di tangan kirimu?”



 



Silvia lalu tertunduk menangis. Menggenggam erat tangan suaminya yang masih saja memalingkan wajah tersebut lalu menciumnya.



 



 “Maafkan aku Kang.. Aku telah menjualnya..” Ucap Silvia seduh..



 



 “Aku tak bisa memaafkan diriku.. aku tak bisa.. Ya Allah.. Ampuni hamba-Mu ini..” Rintih Raihan.



 



Silvia pun terseduh mendengar rintihan suaminya tersebut.. Raihan lalu memalingkan wajah menatap istrinya yang tertunduk menangis di samping ranjangnya itu seraya berkata padanya.



 



 “Jika engkau tak sabar lagi bertahan denganku, aku ikhlaskan segala apapun yang engkau putuskan pada diriku.” Cakap raihan.



 



Silvia mengangkat wajahnya. Lalu dengan mata berkaca ia berkata pada suaminya.



 



 “Aku menikah denganmu bukan karna bahagiamu saja.. Namun susahmu juga. Seberat apapun musibah yang menimpa dirimu.. Aku akan tetap bersamamu. Karena aku tahu cintamu tulus untukku.”



 



Raihan lalu menguatkan diri untuk bangun dari tidurnya. Ia lalu mendekap erat istrinya penuh ketulusan.



 



"Terima kasih atas kesetiaanmu.”



 



           Ketika aku di dekap..



 



           Syurga itu terasa dekat..



 



            Ketika aku di dekap..



 



           Hilanglah sudah segala penat..



 



Alangkah indahnya jika seorang wanita berada dalam dekapan seorang lelaki sholeh yang tulus mencintainya.. Segala kesusahanpun akan ditempuhinya demi mendapatkan ketulusan cinta itu… Sebuah cinta yang semata karena Allah..



Semoga kita semua termasuk orang orang yang ditegarkan hati dan jiwanya..



 



Ditulis pada selasa, 21 Sept 2010



oleh : Imints Fasta



www.imintss.co.cc



 


(read more ...)

Dalam Dekapan Cinta I

On 16 Oktober 2011 0 Comment


 



Dia hidup dalam limpahan kemewahan.. Apapun yang ia inginkan pasti didapatkannya. Kemana-mana selalu mengenakan sedan mewah dengan sopir pribadi yang setia mengantar jemputnya. Dia adalah Silvia, anak seorang konglomerat di sebuah kota. Orangtuanya tidak pernah mengurusinya sehingga ia bebas kemanapun ia suka bersama teman-temannya. Sang Ayah sibuk dengan bisnisnya sehingga sering ke luar kota, sedangkan sang Ibu sibuk pula dengan butiknya sehingga sering bolak-balik Singapur-Indonesia. Untungnya ada pak Parno dan istrinya, Pembantu dirumah konglomerat tersebut yang sering mengawasinya.



Ia sering jalan-jalan bersama teman-temannya ke mall, tempat rekreasi, dan kemanapun yang ia inginkan.. Sampai pada suatu ketika sampailai ia pada satu titik dimana ia merasakan kejenuhan dengan segala apa yang ada. Limpahan kekayaan itu tidak membuat ia merasakan suatu kebahagiaan yang diinginkannya.



Suatu saat setelah pulang dari berbelanja begitu banyak barang-barang yang tidak begitu dibutuhkan olehnya, ia langsung menghempaskan diri diatas ranjang bersama barang-barang belanjaannya yang tergeletak di samping tubuhnya. Lalu ia terbangun di tengah keheningan disepertiganya malam. Ia lalu menatap wajahnya di cermin merasakan sebuah kepenatan yang mendalam. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya.. Sebuah ketentraman pada jiwa. Selama ini ia jauh dari tuhan.. Ia lalu mengambil mukena dan sholat malam setelah berwudhu.



“Ya Allah.. Selama ini aku jauh dari-Mu.”



“Aku Lupa akan fitrahku sebagai hamba-Mu”



“Aku lalai dengan limpahan kemewahan ini”



“Berilah aku petunjuk dalam menggapai keridho'an-Mu ya Allah.”



Lirih suaranya dalam melantunkan lirik-lirik do'a di tengah keheningan malam disertai butiran airmata ketulusan.



Besoknya Ia lalu menemui pak Parno lalu mengatakan padanya kalau ia ingin belajar tentang agama lebih dalam lagi.. Ia butuh seseorang yang bisa membimbingnya menjadi lebih baik lagi..



Melihat raut wajahnya Pak Parno dapat membaca kalau dia sedang dalam kegelisahan untuk mencari ketenangan batin. Lalu Pak Parno menawarkan padanya untuk menikah.



“Menikahlah.. Carilah pemuda sholeh yang bisa membimbingmu menjadi seorang muslimah yang sholehah.”



“Lalu pemuda seperti apa yang harus aku pilih.” Tanya Silvia.



“Pemuda yang takut pada Allah... Karena apabila ia mencintai, dia akan menyayangimu dan apabila Ia benci, dia tidak akan menyakitimu.



>Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya seseorang, “Dengan siapa aku harus menikahkan putriku?”, beliau menjawab, “Dengan laki-laki yang takut kepada Allah. Karena jika ia menyukainya ia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya ia tidak akan menganiayanya”.



“Adakah pemuda yang seperti itu?” Tanya Silvia lagi.



“Ada..” Ucap Pak Parno. “Di seberang jalan sana ada seorang pemuda yang kerjaannya adalah menjahit sepatu. Dia begitu hanif dan bijaksana. Selain seorang mahasiswa, dia juga menjadi Takmir masjid Al-Hidaiyah di kampung sini.” Sambung pak Parno.



Karena jarang pergi ke masjid sehingga dia tidak mengetahuinya kalau di masjid yang ia merupakan salah satu jama'ahnya ada seorang pemuda sholeh yang sering menjadi imam sekaligus menjaga masjid itu.







Pemuda tersebut adalah salah seorang mahasiswa jurusan tekhnik informatika di sebuah Perguruan Tinggi negeri. Sehari-harinya adalah menjual-beli dan memperbaiki sepatu-sepatu bekas guna menambah keringanan orangtua. Selain itu dia tinggal di masjid turut memakmurkan masjid dengan berbagai program untuk meperdayakan jama’ah dalam mengelola masjid. Kerna bagi dia, pemberdayaan jamaah dari sebuah masjid dan masjid lain pun melakukannya merupakan sebuah dasar kebangkitan islam.







Semenjak kehadirannya di daerah tersebut, Ia membawa perubahan yang luar biasa. Dengan berbagai upaya ia mengusahakan agar semua umat muslim berjamaah di masjid. Meski tidak semua yang datang namun setidaknya cukup banyak yang telah mau bergegas ke masjid bila mendengar Adzan ketimbang duduk santai di rumah. Dia sangat mengutamakan hal tersebut karena selain menambah ukhuah sesama muslim, juga menambah rasa persaudaraan.



>(Rosulullah Salallahu’alaihiwasallam bersabda: Sesungguhnya Serigala tidak akan memakan jika Kambing tidak sedang bersendirian)







Rasa ingin tahu Silvia terhadap pemuda itu pun semakin menguat. Ia lalu menyuruh Pak Parno untuk mengenalkannya dengan pemuda tersebut. Ia hanya sekedar ingin melihat pemuda itu. Maka suatu saat pak parno mengajaknya mengikuti kajian mingguan yang sering diadakan tiap minggu malam di masjid tersebut guna menambah pengetahuan agama pada warga. Silvia datang bersama pak Parno dan istrinya. Mereka kedua pembantu di rumah Silvia yang telah menjaga Silvia semenjak kecil karena kedua orangtuanya sibuk akan urusan dunianya.







Pada malam itu ust. Jalil yang seharusnya ngisi tausyiah pada malam itu berhalangan hadir. Biasanya kalau pengisi tausyiah berhalangan hadir maka mereka yang menjadi takmir yang menggantikannya. Dan pada malam itu seorang pemuda berbusana muslim cokelat dengan kopiah hitam dikepalanya berdiri dihadapan para jamaah menggantikan posisi pak Jalil kerna berhalangan hadir. Cara penyampaiannya begitu menarik. Hanya satu hadits yang Ia bahas pada malam itu namun pembahasannya begitu meluas. Pada malam itu dia bahas tentang “ Enam Kewajiban Muslim Terhadap Muslim Yang Lain”







>(Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia mengundangmu penuhilah undangannya; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)". Riwayat Muslim.)







Dia pun mulai membahas satu demi satu hadits di atas kemudian ia berikan pula tips bagaimana membina hubungan yang baik antara sesame saudar kita. Diantaranya ia menjelaskan bahwasannya apabila kita mendengar berita tentang aib saudara kita cukuplah berita itu sampai pada diri kita. Jangan mengumbarkannya lagi. Setiap manusia pasti pernah mempunyai kesalahan dan sebaik-baiknya manusia adalah yang mau mengakui dosanya dihadapan Allah dan berjanji takkan mengulanginya kembali. Termasuk kita, kita pun pasti pernah mempunyai kesalahan dan tak ingin untuk diumbarkannya. Maka dari itu kita pun harus menutupi aib saudara kita.







Seusai mengikuti kajian tersebut mereka lalu kembali ke rumah. Dalam perjalanan pak Parno menanyakan sesuatu pada Silvia.



“Neng Silvia, tahukah kamu siapa pemuda yang mengisi kajian tadi?” Silvia hanya menggelengkan kepalanya. Sementara Bu Darmi istri pak parno hanya tersenyum menatapnya.



“Dia adalah Raihan pemuda yang bapak ceritakan kemarin.” Sambung pak parno.



Silvia sedikit salah tingkah setelah mendengar apa yang disampaikan pak Parno.. sesampai dirumah dia lalu menghempaskan badannya kembali ke atas ranjangnya.







“Apa mungkin wanita yang berlumurkan dosa, jauh dari keshalihan seperti aku bisa mendapatkan lelaki sholeh seperti itu? Selama ini aku melihat pemuda sholeh tidak ingin mendapatkan istri yang begitu jauh dari agama seperti aku ini? Yang Hina lagi keji. Lalu pantaskah wanita seperti aku diperistrikan orang yang sholeh?” Pertanyaan itu yang terus hadir dibenaknya. Ia merasa sungguh tidak pantas wanita seperti dia mendapatkan lelaki shesholeh Raihan. Apalagi Ia pernah mendengar firman Allah bahwa Lelaki baik-baik hanya diperuntuk wanita baik-baik dan lelaki keji diperuntuk wanita keji pula.







Walaupun dia merasa dirinya hina hina lagi keji, namun dia tidak ingin mendapatkan lelaki seperti itu pula. Batinnya semakin menangis membayangkan semua itu. Lalu suatu hari dia menemui ustadjah sofi, Guru agamanya ketika masih SMA dahulu. Ia lalu menyampaikan keluh dan kesahnya pada ustadjah tersebut.



“Batinku telah rindu untuk menikah ya ustadjah.. lelaki yang aku inginkan Ialah dia yang sholeh, yang takut pada Allah dan mencintai Rosulnya. Namun bagaimana mungkin wanita seperti aku bisa mendapatkan lelaki seperti itu?” Tanya Silvia



“Mayyahdillahu fahuwal muhtadi wamayyudhlil falantajidalahu waliyyammursida”



“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”



“Ketika Allah berkehendak, tak ada satu makhlukpun yang mampu mencegah-Nya. Seseorang yang buruk dimata manusia, belum tentu buruk pula dimata Allah. Siapa tahu kamu mempunyai suatu sisi positive yang bisa diandalkan dihadapan Allah. Tidak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Jika Ia telah mengatakan Jadi, maka jadilah. Kamu menginginkan untuk kembali kepada-Nya itu sudah baik.” Cakap Ustadjah Sofi.



“Tapi.. Bukankah lelaki sholeh mereka hanya menginginkan wanita yang sholehah?” Tanyanya lagi.



“Kenakanlah jilbab yang menutupi hingga ke dadamu anakku.. lalu jiwailah apa yang engkau kenakan itu. Mulai sekarang, mendekatlah pada Allah kerna sesungguhnya Allah itu dekat denganmu. Kalau memang Allah menghendaki lelaki itu padamu maka dialah petunjuk Allah bagimu untuk menuntunmu menjadi wanita yang lebih dekat pada-Nya.” Jelas ustadjah Sofi.



>(Kita sering melihat adakala seorang suami begitu terlihat baik sedangkan istrinya tidak, ataupun sebaliknya. Pemikiran kita pun mulai terbalik dari surat Annur : 26. Padahal orang yang terlihat baik di mata kita belum tentu baik pula dimta Allah. Begitupun orang yang terlihat buruk dihadapan kita belum tentu buruk pula di hadapan Allah. Siapa tahu orang yang baik itu mempunyai satu sisi buruk yg membuat Allah murka terhadapnya. Siapatahu pula orang yg terlihat buruk itu mempunyai satu sisi kebaikan yang membuat Allah sayang padanya. Atau jika seorang lelaki itu benar baik dan wanita benar burk, maka itu ujian baginya untuk bagaimana mengubah pasangannya itu menjadi lebih baik lagi)







Silvia lalu beritahukan itikad baiknya itu pada kedua orangtuanya saat mereka telah berkumpul dirumah. Ia menyampaikan bahwa ia telah ingin menikah dan kedua orangtuanya pun menyetujuinya. Setelah mendapatkan persetujuan dari orangtua, lewat bantuan pak parno akhirnya Raihan menikahi wanita cantik anak konglomerat kaya tersebut. Raihan mampu menuntunnya menjadi wanita yang sangat sholehah. Ia paham akan kewajibannya sebagai seorang istri serta tanggungjawabnya terhadap suami.







***







Setelah menikah, ia mengikuti suami pulang ke kampung halaman dan meninggalkan segala bentuk kemewahan yang selama ini dinikmatinya. Ia lalu memilih untuk hidup dengan segala kesederhanaan bersama suami. Ia sangat merasa bahagia berada dalam dekapan cinta seorang suami yang setia. Yang sederhana dan mencintainya dengan setulus hati. Meski pun kemana-mana tak lagi memakai mobil sedan. Tak lagi punya uang yang cukup tuk berbelanja apa yang di inginkannya namun ia tetap mensyukurinya kerna islam telah menjadi pedoman baginya atas tuntunan suaminya.



Namun, seseorang takkan sampai pada puncak keimanan sebelum ia diuji oleh Allah. Takkan sampai pada kebahagiaan sejati sebelum ia melewati ujian dari Sang Khalik.



Pada suatu ketika ibu dari sang suami jatuh sakit sehingga harus dirawat Rumah Sakit hingga ia menemukan ajalnya. Sang suami harus membayar administrasi Rumah Sakit serta biaya pengobatan sang bunda hingga uang simpanannya habis. Uang untuk makan dirumah pun tak seberapa yang di pegang sang Istri. Raihan lalu mencari pekerjaan sampingan sebagai buruh di perusahaan penyuplai semen yang mengangkut semen keluar masuk gudang. Kerna gajinya sebagai tenaga honorer di Perusahaan Listrik Negara (PLN) tak cukup untuk biaya makan ditambah perawatan sang bunda yang masih tertunggak di Rumah Sakit.



Melihat suaminya pulang dengan segala kelelahan, Silvia merasa kasihan. Ia selalu mengusap keringat di wajah sang suami yg lelah seusai bekerja tersebut dengan penuh haru. Ia selalu menyambut suaminya pulang dengan senyuman tulusnya lalu memasakkan air panas untuk suaminya mandi. Seusai mandi Raihan lalu membuka penutup saji diatas meja makan namun tak ada makanan apapun. Ia menyadari kalau sudah tak ada pegangan pada istrinya. Ia lalu menatap kebelakang setelah mendengar suara dibelakangnya.



“Kita puasa ya Zaujie..” Kata silvia sambil mendekat kearah sang Suami. Raihan lalu mengangguk seraya berkata insya Allah esok dia akan mencarikan uang untuk makan mereka besok.



Besok pagi Silvia tak bisa melihat suaminya pergi bekerja dengan perut kosong yang hanya berbekalkan air putih hangat. Ia lalu pergi ke rumah tetangga meminta menyuci baju mereka yang kotor demi mendapatkan uang yang halal agar ketika suami pulang nanti sudah disajikan makanan untuk suaminya. Sungguh hal ini sangat sulit tuk ia lakukan. Anak seoarang konglomerat kaya berubah menjadi seorang tukang cuci. Namun ini harus ia lakukan demi rasa sayangnya pada suami. Meskipun ketika mencuci ia sering meneteskan airmata.



Ketika suaminya pulang betapa kagetnya Ia. Banyak makanan yang dihidangkan diatas meja.



“Darimana engkau mendapatkan semua ini ya Zaujati?” Tanya Raihan.



Silvia lalu menjelaskan apa yang dilakukan olehnya saat suaminya berangkat kerja.



“Walillahi.. aku tidak bisa memakan makanan ini.” Cakap sang suami kerna merasa malu pada dirinya sendiri yg tak mampu menafkahi istri dengan baik.



Sang istri lalu menunduk seraya berkata.



“Maafkan aku ya Zaujie.. aku melakukan ini tanpa sepengetahuanmu.”



“Kamu tidak salah.. aku yang salah. Aku tidak mampu menjadi suami yang baik untukmu.”



Suaminya lalu mendekatinya memegang kedua tangannya. Ia yang tertunduk pun mengangkat kepalanya menatap mata suaminya yang sangat disayanginya itu. Lalu suaminya berkata padanya.



“Maafkan aku yang telah menikahimu.. aku hanya bisa membawamu ke dalam jurang kesengsaraan. Namun aku berjanji.. aku takkan pernah menyakitimu dengan fisikku ini.”



“Bagiku akhunlah lelaki terbaik yang Allah berikan untukku. Dan aku patut untuk menjaganya.. Engkaulah petunjuk Allah sebagai jalan hidaiyah untukku. Dan aku menyayangimu.”



Sang suami lalu memeluknya dengan airmata haru… Allah telah memberikannya seorang istri yang sangat tegar. Dan ia akan terus mensyukurinya.



Sang istri yang berada dalam dekapan ketulusan sang suami pun merasakan cinta yang luar biasa ketika berada dalam pelukannya.







Dalam Dekapan Cinta..



Aku Terbang Bebas Menembus Awan Lepas



Dalam Dekapan Cinta...



Akulah Ratu Dari Seluruh Penjuru Istana..



Dalam Dekapan Cinta..



Sembilu menyayat Takkan Ku Rasa..



Dalam Dekapan Cinta



Akulah isteri dari seoarang lelaki sahaja.







Cinta yang tulus mampu mengalahkan segalanya.. untuk apa harta berlimpah jika tanpa cinta yang tulus? Untuk apa pangkat yang tinggi jika tanpa kasih sayang yang nyata?



Ketika kita dicintai oleh orang yang benar-benar mencintai kita, kita akan merasakan betapa indahnya dunia ini.. namun perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki butuh pengorbanan. Seorang Silvia anak konglomerat kaya rela menanggalkan kehidupan masa lalunya yang penuh kemewahan demi mendapatkan sosok pemuda sholeh yang mencintainya sepenuh hati juga sebuah pengorbanan.



(Bersambung...)


(read more ...)

Kisah Sebuah Pernikahan

On 13 Oktober 2011 0 Comment


 



Kisah Sebuah Pernikahan



Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya



saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan



justru rasa haru biru. Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada



satupun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu.



Beliau yang paling keras menentang perkawinanku.



Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau nikah sama



'buntelan karung hitam' itu ....?!?"



Duh......, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon



istriku disebut 'buntelan karung hitam'.



"Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam,



gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih



tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!" sambung ibu lagi.



"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan



Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu...?" Kali ini aku terpaksa



menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung



mendengar ucapanku.



"Oh.... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu.



baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan



seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan



itu ke rumah ini !!"



DEGG !!!!





"Yanto.... jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba," teguran



Ismail membuyarkan lamunanku.



Segera kuucapkan istighfar dalam hati.



"Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah ...akhi," sekali lagi



Ismail memberi semangat padaku.



"Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas



kawin seperangkat alat sholat tunai !" Alhamdulillah lancar juga aku



mengucapkan aqad nikah.



"Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien.



Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."





Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama.



Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah



sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati



kuberanikan diri untuk menyapanya.



"Assalamu'alaikum .... permintaan hafalan Qur'annya mau di cek kapan



De'...?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan



dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam



pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur'an



tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. "Nanti saja



dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam tunduknya. Wajahnya yang



berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat



dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku



suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah.



Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku 'tidak



menarik'. Sekelebat pikiran itu muncul ....dan segera aku mengusirnya.



Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.



"Bang, sudah saya katakan sejak awal ta'aruf, bahwa fisik saya seperti



ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal



beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak



untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya Imam



malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya.



Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam



Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka," ...



Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian



bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak



menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang



banyak."



(QS An-Nisa:19)



Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata



itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita



yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama



besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.



"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan



kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan



menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."



Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam



dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih



menyisakan segumpal ragu.



"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh... saya



siap menerima keputusan apapun yang terburuk," ucapnya lagi.



"Tidak...De'.



Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah.



Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika



seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi," paparku sambil



menggenggam erat tangannya.





Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait



do'a kubentangkan pada Nya.



"Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan



cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang



cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini



akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu.



Karera itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !"



Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap



raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku



benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita sholihah



sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya.



Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shoum



sunnah Rasul Nya. "...dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah



tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka



mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya



pada Allah ..." (QS. al-Baqarah:165)







(read more ...)
Switch to Dark fonts Switch to Light fonts